Dalam dunia konstruksi, dua dokumen penting yang sering membuat pemilik proyek bingung adalah BQ (Bill of Quantity) dan RAB (Rencana Anggaran Biaya). Keduanya terlihat mirip, sama-sama membahas kebutuhan proyek dan anggaran. Namun, sebenarnya fungsi, isi, dan waktu penggunaannya sangat berbeda.
Memahami perbedaan BQ dan RAB tidak hanya membantu Anda mengontrol biaya, tetapi juga mencegah kesalahan fatal seperti salah perhitungan material, biaya membengkak, atau miss-communication dengan kontraktor
🔗 Baca juga: Apa itu BQ dalam proyek?
Apa Itu BQ (Bill of Quantity)?
Bill of Quantity adalah dokumen yang berisi daftar lengkap volume pekerjaan dalam suatu proyek, biasanya disusun oleh estimator atau quantity surveyor.
Isi Utama BQ:
Daftar item pekerjaan (misalnya pekerjaan lantai, dinding, struktur, plafon, MEP, dsb.)
Volume atau kuantitas (m², m³, unit, titik)
Spesifikasi singkat
Tidak berisi harga!
Fungsi BQ:
Menjadi dasar tender / penawaran ke kontraktor.
Memastikan semua kontraktor menawar dengan volume yang sama.
Menghindari adanya item pekerjaan yang terlewat.
Menjadi acuan pengawasan volume di lapangan.
Intinya:
BQ adalah daftar volume pekerjaan fokus pada kuantitas, bukan harga.
Apa Itu RAB (Rencana Anggaran Biaya)?
RAB adalah dokumen yang menghitung total biaya proyek, berdasarkan volume dari BQ yang kemudian dikalikan dengan harga satuan material + upah + biaya pendukung lainnya.
Isi Utama RAB :
Item pekerjaan
Volume (diambil dari BQ)
Harga satuan material & upah
Total harga per pekerjaan
Rekapitulasi total biaya proyek
Fungsi RAB :
Menentukan budget proyek secara menyeluruh.
Menjadi dasar negosiasi antara pemilik proyek & kontraktor.
Menjadi kontrol cost selama pelaksanaan.
Menentukan keberlanjutan desain terhadap kemampuan budget.
Intinya:
RAB adalah perhitungan nilai biaya berdasarkan BQ fokus pada angka dan total budget.
🔗 Baca juga: Cara menyusun RAB dengan Baik dan Benar!
Perbedaan BQ dan RAB secara Singkat
| Aspek | BQ (Bill of Quantity) | RAB (Rencana Anggaran Biaya) |
|---|---|---|
| Isi | Daftar volume pekerjaan | Total biaya proyek |
| Fokus | Kuantitas | Harga |
| Siapa yang membuat | Estimator / QS | Kontraktor / konsultan |
| Digunakan kapan | Pra-tender | Setelah BQ selesai |
| Fungsinya | Menyamakan volume penawaran | Menentukan budget final |
| Ada harga? | ❌ Tidak | ✔️ Ada |
Kenapa BQ dan RAB sama-sama penting?
Tanpa BQ, kontraktor bisa menghitung volume berbeda dan harga penawaran jadi tidak apple to apple.
Tanpa RAB, pemilik proyek tidak memiliki acuan biaya yang jelas.
Keduanya bekerja sebagai satu paket perencanaan.
BQ → menghitung volume → masuk ke RAB → menghasilkan biaya proyek.
Contoh Sederhana BQ dan RAB
Contoh BQ
Pekerjaan lantai keramik – 120 m²
Pekerjaan cat dinding – 200 m²
Pekerjaan plafon gypsum – 90 m²
(Tidak ada harga.)
Contoh RAB
Lantai keramik 120 m² x Rp 250.000 = Rp 30.000.000
Cat dinding 200 m² x Rp 45.000 = Rp 9.000.000
Plafon gypsum 90 m² x Rp 180.000 = Rp 16.200.000
(Total biaya proyek didapat.)
Kesalahan Umum Pemilik Proyek Terkait BQ & RAB
Mengira BQ sudah termasuk harga
Menggunakan RAB tanpa memeriksa volume dari BQ
Tidak melakukan cross-check antara BQ, RAB, dan gambar kerja
Tidak meminta spesifikasi teknis yang jelas
Menganggap semua kontraktor menghitung dengan standar yang sama
Padahal, kesalahan kecil pada volume bisa membuat perbedaan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Kesimpulan: Perbedaan BQ dan RAB
BQ = daftar volume pekerjaan
RAB = total biaya berdasarkan volume BQ
Memahami perbedaan BQ dan RAB adalah fondasi penting sebelum Anda memulai proyek konstruksi, renovasi kantor, pembangunan rumah, interior, hingga proyek skala besar. Semakin akurat kedua dokumen ini, semakin aman dan terkontrol biaya proyek Anda.
Jika Anda membutuhkan BQ dan RAB yang akurat, atau sedang mencari kontraktor berpengalaman untuk wilayah Jakarta & Jabodetabek, kami siap membantu dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
Hubungi kami untuk konsultasi gratis.
🔗 Baca juga: Layanan Survey Gratis oleh Star Skykom Indonesia
Интересная статья, сам пару дней
назад интересовался в теме??